Achril Y. Babyonggo: Menjaga Napas Bahasa Suwawa di Tengah Tantangan Zaman

Upaya pelestarian bahasa daerah terus digaungkan di berbagai wilayah Indonesia. Di tengah kekhawatiran akan berkurangnya jumlah penutur, sosok Achril Y. Babyonggo hadir sebagai salah satu pegiat yang konsisten memperjuangkan keberlangsungan bahasa Suwawa.

Sebagai putra asli Suwawa, Achril mengaku memiliki kebanggaan tersendiri terhadap bahasa leluhur yang diwariskan turun-temurun. Baginya, bahasa Suwawa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas yang harus dijaga dan dilestarikan.

Aktif Sejak Remaja

Ketertarikannya pada dunia kebahasaan sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Namun, keterlibatan yang lebih mendalam dimulai saat ia menempuh pendidikan di Makassar pada tahun 1994. Di kota tersebut, ia tergabung dalam komunitas mahasiswa Kerukunan Bahasa Suwawa. Bersama rekan-rekan sesama mahasiswa, ia lebih memilih menggunakan bahasa Suwawa dibandingkan bahasa Gorontalo dalam komunikasi sehari-hari. Menurut Achril, komunitas mahasiswa di Makassar menjadi salah satu faktor paling berpengaruh dalam perjalanan pengabdiannya sebagai pegiat bahasa.

Motivasi dan Tantangan

Achril mengungkapkan bahwa motivasi utamanya terlibat dalam pelestarian bahasa Suwawa adalah rasa tanggung jawab moral. Ia menyadari bahwa jumlah penutur bahasa Suwawa semakin berkurang, terutama di kalangan generasi muda.

“Tantangan terbesar adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa Suwawa. Banyak anak-anak yang merasa malu menggunakan bahasa daerah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya pergeseran bahasa di lingkungan keluarga dan sekolah. Banyak masyarakat Suwawa yang menikah atau bersekolah di luar daerah sehingga penggunaan bahasa Suwawa dalam keseharian semakin jarang. Meski demikian, ia optimistis bahwa jika generasi muda memiliki kecintaan terhadap bahasa daerah, bahasa Suwawa akan tetap lestari.

Program Pelestarian

Dalam perjalanannya, Achril telah menggagas berbagai kegiatan. Pada tahun 2017–2018, ia mengadakan pergelaran seni sastra lisan Legedo sebagai salah satu cara mempopulerkan bahasa Suwawa. Selain itu, ia juga merencanakan program “Kemah Bonda” sebagai wadah belajar bahasa Suwawa. Ia aktif membina Komunitas bahasa Suwawa dan Komunitas Legedo. Tak hanya itu, Achril juga terlibat dalam program revitalisasi bahasa Suwawa melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan. Ia turut menjadi pemateri bahasa Suwawa di media Gorontalo. Meski belum terlibat langsung dalam penyusunan kamus atau modul ajar, Achril sering membantu dosen dan peneliti yang membutuhkan referensi bahasa Suwawa. Saat ini, ia tengah mengupayakan penyusunan kamus bahasa Suwawa.

Respons dan Harapan

Respons masyarakat terhadap upaya pelestarian dinilai cukup positif, terutama dari kalangan orang tua. Masyarakat berharap adanya program berkelanjutan setiap tahun, bukan sekadar lomba sesaat. Perubahan positif pun mulai terlihat. Anak-anak menunjukkan antusiasme dalam mengikuti lomba mendongeng dan legedo menggunakan bahasa Suwawa. Bagi Achril, pengalaman paling berkesan selama menjadi pegiat bahasa adalah saat turun langsung ke masyarakat, khususnya bertemu para orang tua Suwawa untuk menggali kosakata lama yang hampir terlupakan.

Pesan untuk Generasi Muda

Di akhir wawancara, Achril berpesan agar masyarakat Suwawa bangga menggunakan bahasa daerahnya sendiri.

“Berbanggalah berbahasa Suwawa. Jika Bahasa Suwawa punah, maka orang Suwawa bisa terpinggirkan. Bahasa adalah identitas, dan identitas harus dijaga,” tegasnya.

Melalui langkah-langkah kecil namun konsisten, Achril Y. Babyonggo membuktikan bahwa pelestarian bahasa bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.